Makna Toleransi dalam Perayaan Nyepi dan Idulfitri yang Beriringan

    Makna Toleransi dalam Perayaan Nyepi dan Idulfitri yang Beriringan

    SURABAYA - Ada yang unik di balik perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 2026. Kedua hari besar agama umat Hindu dan Islam tersebut berlangsung beriringan. Fenomena tersebut menjadi menarik, seiring dengan keragaman dan nilai toleransi yang selama ini dipegang oleh masyarakat. 

    Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Listiyono Santoso SS MHum menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sudah terbiasa hidup secara heterogen. 

    “Adanya perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri secara berdekatan di antara umat beragama Indonesia merupakan hal yang sudah terbiasa terjadi. Hal ini sudah lama mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat Indonesia yang memang sejak awal sudah hidup dengan beragam perbedaan, ” ungkapnya. 

    Pertemuan-pertemuan dalam konteks kebudayaan turut menjadi faktor utama dalam peristiwa ini. Merangkum penuturannya, perbedaan agama bukan menjadi masalah yang serius dalam lingkup negara Bhinneka Tunggal Ika. 

    Makna Toleransi 

    Lebih lanjut, Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Jawa Timur itu juga mengajak masyarakat kembali menilik nilai dan makna toleransi. Toleransi berasal dari kata tolerare yang berarti sikap sabar dan menahan diri. Dalam perkembangannya, toleransi dimaknai sebagai sikap untuk saling menghargai dan memberikan ruang yang sama bagi orang-orang dengan latar belakang berbeda.

    Ia juga menekankan sikap toleransi dapat dicermati dengan memberikan ruang aman bagi orang dengan keyakinan berbeda untuk merayakan keyakinannya. “Keyakinan dalam beragama itu dilindungi oleh konstitusi. Maka negara menjamin setiap masing-masing untuk beribadah dengan aman dan setiap orang tidak boleh mengganggu proses ibadah masing-masing agama tersebut, ” ujar Wakil Dekan II FIB itu pada Jumat (13/3/2026) ketika diwawancarai di Ruang Rapat Dekanat, Gedung FIB Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. 

    Praktik Toleransi di Indonesia

    Secara substantif, bangsa Indonesia telah menerima perbedaan-perbedaan yang mengakar sejak dahulu. Faktor keberagaman yang melekat menjadikan masyarakat terbiasa hidup berdampingan dengan damai. 

    “Negara Indonesia berbeda dengan negara-negara di Eropa. Masyarakat Indonesia secara alamiah tumbuh dan besar dalam perbedaan-perbedaan yang ada, ” imbuhnya. 

    Ia juga menyoroti adanya anasir-anasir yang mengganggu di lingkup masyarakat namun nilainya tidak cukup besar untuk merusak pola tradisi rukun ini. Terlebih, Indonesia merupakan negara berbangsa yang secara sah mengakui perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, dan sebagainya. 

    Sejalan dengan pernyataan tersebut, Dr Listiyono berpesan kepada generasi muda untuk melestarikan tradisi toleransi. Menurutnya, generasi muda seperti Gen-Z harus sering menyelenggarakan kegiatan yang menunjukkan kebersamaan lintas iman.

    “Generasi muda harus siap untuk hidup dalam ruang-ruang perbedaan. Sebab, kita bukan masyarakat umum kita adalah masyarakat heterogen. Biasakan diri untuk terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat heterogenitas agar penerimaan perbedaan terasa lebih muda, ” pungkasnya. 

    surabaya
    Achmad Sarjono

    Achmad Sarjono

    Artikel Sebelumnya

    Danrem 084/BJ Serahkan Bingkisan Lebaran...

    Artikel Berikutnya

    RSUD dr. Iskak Tulungagung Tutup Rangkaian...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Siliwangi Santri Camp 2026 Siapkan 1.000 Santri Jawa Barat Jadi Generasi Tangguh, Religius, dan Nasionalis
    KAI Daop 7 Madiun: Angkutan Barang Melaju Pesat di Awal 2026
    Kejari Tanjung Perak Terapkan WFH Mulai 17 April, PTPS dan Tilang Tetap Buka
    Lautan Sepeda! Ribuan Warga Mojokerto Tumpah Ruah Ikuti Funbike, Semarakkan HUT Ke 80 Persit
    Polres Probolinggo Bubarkan Balap Liar di Dringu, Puluhan Motor Diamankan

    Ikuti Kami